Budaya Asing
Sepeti yang kita ketahui bahwa budaya asing yang
negeri kita terima selama ini berawal dari trendinya suatu kebudayaan luar negeri melalui entertainmen
, hiburan , seperti boyband , fashion , film. Sebenarnya maksud dari Negara yang memproduksikan
media entertainment tersebut adalah industry atau mata pencaharian baginya
,dengan memamerkan budayanya hingga go Internasional.
Dan sebagai Negara yang masih minim kemampuannya Indonesia
hanya bisa bersifat konsumtif, padahal budaya dalam negeri sungguh beragam untuk di
kembangkan go internasional, sehingga kita seolah –
olah pengalihan dari mengkonsumsi budaya asing yang masuk, ternyata Negara
tetangga mengembangkan budaya kita hingga mengakuinya sebagai budaya miliknya,
jadi siapa yang salah?
Apakah mereka yang mengakuinya? Tentu tidak mereka peduli dan melestarikannya
,sedangkan kita hanya berlabel sebagai pemilik budaya kita sendiri yang
hanya koleksi dan tidak melestarikannya.
Jadi begitulah apa yang terjadi di Negara kita setelah budaya diambil barulah ribut, padahal kita seharusnya melestarikan budaya semua
yang ada di negeri ini,
dan tetap bisa menikmati hiburan dari luar negeri dengan cara menerimanya dengan filter
dan ambil apa saja yang patut di contoh dari budaya asing yang mereka pamerkan.
Contoh: jika anda tahu orang Amerika bila membaca suatu media
baca, kecepatan kata per menitnya diatas 350-400, sedangkan Indonesia Koran
pagi setelah digunakan baca Koran tersebut bisa dibilang hilang , sekali pakai buang,
dan kecepatan membaca orang Indonesia hanya sekitar 200-300 kata per
menitnya, di Amerika membaca 300 kata
permenititulah orang buta huruf. Jadi kita tentu tahu apa yang harus kita contoh.
Jepang tak peduli seberapa tingginya orang di
sana memiliki jabatan , di pagi hari sekali mereka telah bangun dan di
hari libur mereka melakukan aktifitas pertamanya dengan membersihkan lingkungan rumahnya,
mengguntingrumput, menyapu halaman dan sebagainya, sedangkan Indonesia, yang
biasamembersihkanataumengguntingrumputadalahtukangkebunataupetani, mereka yang
berprofesi di
bidang nya saja melakukan aktifitasnya setelah mereka sarapan dan menunggu pagi mulai muncul bukan pagi hari sekali seperti budaya
orang jepang diatas sebelumnya, tentu kita bisa menarik contoh yang patut di
tiru disini.
Dan dalambekerja orang Eropa, sekitar jam 07.00 apa yang
mereka lakukan kita bisa lihat di
pinggir jalanan umum mereka berbondong-bondong mencari nafkah( berjalan menuju ke tempat bekerjanya)
demi kebutuhan hidupnya dapat kita perhatikan dari wajah –wajah mereka yang
penuh semangat dan konsisten.
Dan di Jepang kita apakah bisa melihat orang berjalan sesantai di
Indonesia?Tentu tidak di hari kerja mereka berjalan cepat itulah ungkapan orang Indonesia,
padahal mereka sudah di tanamkan sejak dini untuk hidupseperti itu demi
menggapai kesejahteraan kelak. Dan mereka berangkat pagi dan pulang malam hari, rasa
lelah mereka , mereka menikmati di kedai atau makan malam bersama keluarga di rumah.
Tentu dari berbagai contoh budaya di atas kita sebagai generasi penerus
Indonesia dapat mengambil contoh dari mereka, untuk membantu perkembangan negeri ini
agar lebih baik,.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar